Hukum

Peredaran Inex di Sumenep Merajalela, Maksiat dan Miras Bebas Beroperasi, APH Terlihat Kehilangan Gairah Menindak

SUMENEP – Selasa, 17 Februari 2026
Kabupaten Sumenep berada di ambang krisis moral dan sosial. Menjelang bulan suci Ramadan, sejumlah tempat hiburan malam yang diduga menjadi pusat maksiat dan peredaran minuman keras justru tetap beroperasi secara terang-terangan. Kondisi ini memantik kemarahan publik dan menimbulkan tudingan serius bahwa aparat penegak hukum seolah membiarkan praktik tersebut berlangsung bertahun-tahun tanpa penindakan tegas.

Pantauan di lapangan menunjukkan, beberapa lokasi hiburan malam seperti JBL dan MR Ball masih tampak aktif beroperasi. Aktivitas keluar-masuk pengunjung terjadi hampir setiap malam.

Sejumlah LC atau wanita pemghibur terlihat bebas keluar masuk, seakan tak ada rasa takut terhadap razia atau penegakan hukum. Situasi ini kontras dengan semangat Ramadan yang seharusnya dijaga bersama.
Sorotan tajam masyarakat mengarah pada kinerja Polres Sumenep, Satpol PP Sumenep, serta unsur aparat lainnya.

Warga mempertanyakan keberanian negara untuk benar-benar hadir menertibkan lokasi-lokasi yang selama ini disebut sebagai pusat maksiat dan peredaran miras, namun tetap beroperasi seolah kebal hukum.

Selain tempat hiburan malam, lokasi yang dikenal warga sebagai Warung Mami kembali menjadi sorotan. Hampir setiap malam, anak-anak muda disebut bebas keluar masuk. Aktivitas berlangsung terbuka di Jalan Lingkar Timur, Talangan—jalur publik yang ramai—tanpa hambatan berarti dari aparat.

Dugaan serupa juga mencuat di kawasan Pandian, tepat di depan pondok kediaman eks Wakil Bupati Sumenep Dewi Khalifah. Fakta ini semakin memanaskan kemarahan publik karena lokasi tersebut berada di kawasan yang seharusnya steril dari praktik menyimpang.

Dalam beberapa tahun terakhir, operasi yang digelar aparat dinilai hanya bersifat seremonial. Datang beramai-ramai, kamera menyala, dokumentasi berjalan, lalu selesai tanpa penutupan permanen. Tidak ada efek jera. Warga menyebutnya sebagai “drama operasi” yang terus berulang.

Direktur JASTRA: Aparat Tidak Serius, Besok Kami Surati Semua Pihak

Direktur JASTRA, Hasyim Khu, menyampaikan kekecewaan mendalam atas sikap aparat yang dinilainya tidak serius dan setengah hati.

“Ini bukan cerita baru. Bertahun-tahun tempat maksiat dan miras dibiarkan hidup di Sumenep. Sekarang sudah di depan mata, menjelang Ramadan pun masih buka terang-terangan. Kalau ini bukan pembiaran, lalu apa namanya?” tegas Hasyim.
Ia menilai aparat lebih sibuk menjaga citra ketimbang menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba, miras, dan praktik maksiat.

“Kami melihat hukum hanya hadir saat kamera ada. Setelah itu, semua kembali normal. LC kembali keluar masuk, tempat hiburan kembali buka. Ini penghinaan terhadap akal sehat masyarakat,” lanjutnya.

Hasyim menegaskan, pada Rabu (besok) pihaknya akan secara resmi menyurati DPRD Sumenep, Bupati Sumenep, Polres Sumenep, Satpol PP, serta dinas-dinas terkait untuk menggelar aksi demonstrasi lanjutan sekaligus mendesak operasi gabungan secara terbuka dan berkelanjutan.

“Kami tidak mau operasi sandiwara. Kami menuntut operasi bersama yang serius, transparan, dan berani menutup permanen tempat-tempat maksiat. Jika aparat tetap diam, maka tekanan publik akan terus kami tingkatkan,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Sumenep disebut telah memasuki kondisi darurat peredaran pil Inex dan menjamurnya tempat maksiat.

Aktivis dan tokoh masyarakat berulang kali memperingatkan bahwa pembiaran ini akan merusak generasi muda secara sistematis.
Aktivis Sumenep lainnya, Ainul Yakin, bahkan menyebut masyarakat siap melakukan langkah lebih keras jika aparat terus dinilai main mata.

“Kalau sudah pakai Inex pasti geleng-geleng. Dan kalau sudah ‘ON’, ke mana lagi kalau bukan ke tempat-tempat maksiat itu?” ujarnya.

Kini publik menunggu jawaban nyata, bukan janji dan drama. Akankah hukum benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu menjelang Ramadan, atau Sumenep akan terus dibiarkan tenggelam dalam darurat Inex dan panggung maksiat yang terang-terangan menantang wibawa negara?

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button