Abdul Mu’ti Soroti Krisis Kebenaran di Era Digital dan Tantangan AI

Senin, 16 Februari 2026 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyoroti krisis kebenaran di era digital yang kian menguat seiring berkembangnya teknologi informasi dan kecerdasan buatan. Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak boleh menyerah dalam upaya mencari dan menjaga kebenaran.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan guru besar Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Medan, Senin. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan refleksi mengenai tantangan era post-truth serta dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip buku The Future of Truth karya Werner Herzog, Abdul Mu’ti mengatakan dunia kini semakin kesulitan membedakan antara fakta, kebenaran, dan hoaks.

“Kebenaran hari ini sering kali dikalahkan oleh apa yang populer dan viral,” ujarnya.

Ia menambahkan, AI sebagai kelanjutan dari kehadiran komputer telah mengubah tatanan kehidupan manusia. Menurut dia, kemajuan teknologi juga memunculkan tantangan serius bagi kehidupan beragama.

“Di era ini, agama selalu menghadapi tantangan, salah satunya ateisme. Manusia merasa dirinya berkuasa karena teknologi, padahal semua itu tetap dalam kehendak Tuhan,” kata Abdul Mu’ti.

Dalam konteks post-truth, ia menilai kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu pengetahuan atau hukum, melainkan oleh viralitas yang bahkan dapat direkayasa oleh robot. Kondisi ini, menurut dia, berpotensi melahirkan kesepian dan kekosongan makna dalam kehidupan manusia.

Karena itu, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya peran tokoh agama dan cendekiawan. “AI tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah,” ujarnya.

Ia menyebut kehadiran sosok ulul albab dan ulul abshar diperlukan untuk memandu masyarakat dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Ia juga mengingatkan bahwa gelar profesor bukan sekadar pencapaian akademik. Seorang guru besar, kata dia, harus menjadi teladan intelektual, agen perubahan peradaban, sekaligus agen perubahan spiritual.

Sementara itu, Rektor UMSU Prof. Agussani mengatakan pengukuhan guru besar tersebut merupakan yang kedua pada 2026. Tahun ini, UMSU menargetkan pengukuhan tujuh guru besar baru, dengan total 34 calon guru besar yang tengah berproses.

“Kami berharap pidato pengukuhan hari ini menjadi bagian penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas universitas,” katanya. (antara)

Berita Terkait

Walaupun Mendadak Klarifikasi, Polemik 106 Sak Beras Kian Memanas hingga Menjalar ke BLT, Narsum Pastikan Hingga Kini Tak Sesuai Fakta
Arena Judi Digulung, Dalang Menghilang: Dikkri Jadi DPO Kasus Sabung Ayam Pamekasan
KenDuren Wonosalam 2026 Resmi Ditiadakan, Pemkab Jombang
Skandal Mafia BBM: Wartawan Korban Kriminalisasi Siap Bongkar Kebusukan Oknum Kasat, Kanit hingga Oknum Penyidik Polres Sumenep di Gedung DPR RI
BNNP Jatim Amankan Warga Kedungmangu, Pengurus LRPPN-BI Bantah Isu Tebusan Rp15 Juta
Sumenep Darurat Inex dan Maksiat: Aparat Dituding Tumpul, Generasi Muda Seolah Dirusak
Prabowo Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Demi Perbaikan SDM

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

Walaupun Mendadak Klarifikasi, Polemik 106 Sak Beras Kian Memanas hingga Menjalar ke BLT, Narsum Pastikan Hingga Kini Tak Sesuai Fakta

Minggu, 22 Februari 2026 - 00:27 WIB

Arena Judi Digulung, Dalang Menghilang: Dikkri Jadi DPO Kasus Sabung Ayam Pamekasan

Jumat, 20 Februari 2026 - 00:39 WIB

KenDuren Wonosalam 2026 Resmi Ditiadakan, Pemkab Jombang

Kamis, 19 Februari 2026 - 22:53 WIB

Skandal Mafia BBM: Wartawan Korban Kriminalisasi Siap Bongkar Kebusukan Oknum Kasat, Kanit hingga Oknum Penyidik Polres Sumenep di Gedung DPR RI

Rabu, 18 Februari 2026 - 23:06 WIB

BNNP Jatim Amankan Warga Kedungmangu, Pengurus LRPPN-BI Bantah Isu Tebusan Rp15 Juta

Berita Terbaru