Sumenep Darurat Maksiat! Usai Demo JASTRA, Tempat Hiburan Tetap Bebas, Aparat Dituding Main Drama Operasi

Sumenep- Gelombang kemarahan publik di Sumenep kian memuncak. Pasca demonstrasi JASTRA yang mengguncang ruang publik, kondisi di lapangan justru menelanjangi ironi pahit: sejumlah tempat hiburan malam yang diduga kuat menjadi pusat maksiat dan peredaran minuman keras tetap beroperasi seolah kebal hukum.
Aparat penegak hukum dan penegak Perda kembali menjadi sasaran kritik tajam. Operasi yang digelar disebut warga hanya bersifat kosmetik—datang beramai-ramai, berpose di depan kamera, lalu menghilang tanpa penindakan berarti. Publik pun menilai langkah tersebut sekadar sandiwara rutin untuk meredam amarah, bukan penegakan hukum yang tegas dan berani.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejak siang hari sejumlah LC atau wanita penghibur sudah mulai berdatangan ke tempat karaoke. Mereka terlihat bersiap menemani pria hidung belang di lokasi-lokasi yang selama ini dicap warga sebagai ladang maksiat terselubung. Aktivitas itu berlangsung terbuka, tanpa rasa takut, seolah razia aparat tak lebih dari formalitas tanpa efek jera.
Sejumlah nama tempat hiburan kembali mencuat dan jadi buah bibir: Mr. Ball, JBL, Harmoni, Potree, Lotus Cafe, hingga Warung Mami. Ironisnya, Warung Mami yang disebut-sebut warga sebagai agen miras justru diklaim tak pernah sekalipun tersentuh operasi.
Situasi ini memperkuat kecurigaan publik bahwa operasi kondusional miras hanyalah trik klasik. Alih-alih memberantas penyakit sosial, aparat dinilai lebih sibuk menjaga citra. Sorotan pun mengarah tajam ke Polres Sumenep: akankah penegakan hukum benar-benar ditegakkan, atau Sumenep akan terus dibiarkan tenggelam dalam panggung maksiat yang terang-terangan menantang wibawa negara?



