Malam Ramadhan Dikhianati: Tempat Diduga Milik Oknum Tetap Buka Barbar, Dijaga Pemuda, APH Sumenep Diam
SUMENEP — Wibawa aparat penegak hukum di Kabupaten Sumenep kembali dipertanyakan publik. Di tengah malam-malam suci Ramadhan, sejumlah lokasi yang diduga menjadi pusat peredaran minuman keras dan aktivitas maksiat justru tetap beroperasi secara terang-terangan, seolah kebal hukum dan tanpa rasa takut.
Sorotan tajam warga mengarah pada Warung Mami di kawasan Talangan, yang oleh masyarakat setempat disebut-sebut sebagai gudang miras aktif.
Setiap malam, pemuda keluar masuk lokasi tersebut tanpa hambatan, bahkan disebut dijaga oleh sekelompok anak muda. Lokasinya pun bukan tempat tersembunyi—berada di Jalan Lingkar Timur, jalur publik yang ramai, berdekatan dengan warung durian.
Bahkan pantauan wartawan, tempat tersebut buka di malam pertama ramadhan.
“Tempat di Talangan itu diduga milik oknum. Sudah lama buka, tapi aman terus,” ungkap seorang warga kepada Kabardata.id.
Tak berhenti di situ, dugaan pusat peredaran miras juga mencuat di kawasan Pandian, tepatnya di depan pondok pesantren milik mantan Wakil Bupati Sumenep, Dewi Khalifah. Fakta ini kian menambah kegelisahan publik: bagaimana mungkin aktivitas yang merusak moral justru tumbuh di sekitar simbol pendidikan agama?
Lebih mencengangkan, pengakuan dari keluarga seorang oknum aparat menyebut adanya keterlibatan anggota keluarga oknum TNI yang diduga bekerja di salah satu lokasi hiburan malam. Informasi ini memperkuat kecurigaan publik bahwa praktik pembiaran bukan tanpa sebab.
Red
Sejumlah tempat dugem seperti JBL, Potree, Lotus, Harmoni, hingga MR Ball disebut tetap beroperasi normal, bahkan di bulan Ramadhan. Warga menilai, operasi penertiban yang dilakukan aparat selama ini hanya bersifat seremonial dan kosmetik—datang ramai, foto-foto, lalu menghilang tanpa hasil nyata.
“Aparat tidak akan berani menindak. Terutama Warung Mami yang sudah kebal hukum itu,” ujar Edi, warga Pabian, dengan nada kecewa.
Kondisi ini membuat peran aparat penegak hukum seperti Polres Sumenep, Satpol PP, hingga unsur TNI dinilai mandul di mata publik. Di saat masyarakat berharap Ramadhan menjadi momentum bersih-bersih maksiat, yang terjadi justru pembiaran terang-terangan.
Aktivis Sumenep, Ainul Yakin, menyebut situasi ini sebagai ancaman serius bagi masa depan generasi muda.
“Generasi Sumenep sedang dirusak secara sistematis. Jika aparat terus main mata, masyarakat tidak akan tinggal diam. Kami siap melakukan sweeping mandiri,” tegasnya.
Ia juga menyoroti maraknya peredaran pil Inex yang kian mengkhawatirkan, sementara aparat terkesan lesu dan kehilangan nyali.
Kini, publik menanti langkah tegas dari Letkol Arm Bendi Wibisono, S.E., M.Han, selaku Dandim 0827/Sumenep, untuk melakukan penyelidikan internal dan intelijen.
Masyarakat mendesak agar identitas pemilik Warung Mami dan jaringan peredaran miras dibongkar secara terbuka.
Jika hukum terus tumpul ke atas dan tajam ke bawah, Sumenep dikhawatirkan akan terus tenggelam dalam panggung maksiat yang secara terang-terangan menantang wibawa negara—bahkan di malam-malam suci Ramadhan.



