Hukum

Darurat Miras–Inex di Sumenep: Operasi Aparat Dipersoalkan, Warung Mami dan Karaoke Tetap Hidup Dekat Polres, LC Live Tiktok Petantang petenteng

SUMENEP — Kamis, 25 Februari 2026, masyarakat Sumenep kembali dibuat geram. Operasi penertiban selama Ramadan yang digelar aparat justru berakhir skandal publik.

Alih-alih menegakkan hukum, sejumlah tempat hiburan malam yang sebelumnya diklaim tutup kini kembali beroperasi—bahkan terang-terangan di depan publik.

Sorotan tajam tertuju pada Warung Mami, dan Harmony yang menurut pantauan buka kembali. Fakta ini memicu pertanyaan keras: untuk siapa sebenarnya operasi ini dijalankan?

Padahal di Sumenep darurat iras dan pil Inex.

“Operasi di Sumenep ini memalukan. Aparat seakan semua dikondisikan. Dari tadi sore warung buka lagi, dijaga dua pemuda,” kata R, warga Pabian, dengan nada kecewa.

Sementara itu, beberapa lokasi hiburan lain seperti MR Ball, Lotus, dan Potree, JBL diduga juga kembali aktif, meski sebagian beroperasi sembunyi-sembunyi. Di Harmony, pintu depan tampak tertutup, namun akses samping tetap digunakan.

“Warung Mami dengan rumah dinas Kapolres hanya berjarak 300 meter. Dekat sekali, tapi tetap bebas beroperasi seperti tak ada hukum.” kata Warga.

Fakta ini memperkuat tudingan publik bahwa operasi tersebut lebih banyak drama ketimbang penegakan hukum nyata.

Tak hanya itu, Kodim 0827/Sumenep juga turut serta dalam operasi, meski beberapa hari sebelumnya salah satu personel yang terlibat tercatat sebagai penjaga di salah satu tempat karaoke dekat Polres. Bahkan, salah satu LC melakukan siaran langsung di TikTok saat karaokean sedang berlangsung, menambah tanda tanya besar soal profesionalisme aparat.

Ainul Yakin, aktivis lokal, menegaskan bahwa operasi ini adalah cermin telanjang kebobrokan sistem pengawasan di Sumenep.

“Kalau operasi cuma simbolik, jangan heran maksiat dan miras terus hidup. Ini bukan penertiban, ini ritual kosong yang dipertontonkan setiap tahun,” tegasnya.

Ia menuntut aparat Polres dan Kodim menelusuri siapa yang membekingi dan mengendalikan tempat-tempat tersebut. Keberanian penegakan hukum, kata Ainul, harus terlihat jelas agar publik tahu bahwa maksiat tidak bisa berjalan bebas.

” Sumenep ini darurat Miras dan Pil inex. Kenapa tidak ada keseriusan dari aparat Sumenep untuk melakukam operasi 3 kali sehari seperti kepemimpinan Kapolres Henri yang lalu ? Apakah sudah menerima setoran  ? ,” tegasnya.

Anehnya, dalam beberapa kali operasi gabungan, mereka tidak menemukan miras . Datang rombongan, foto foto dokumentasi, lalu pergi dengan tangan kosong.

“Saya tantang Kapolres dan Dandim langsung sidak. Jangan melakukan operasi layaknya mengawal datangnya unroh, ya bocor,” tegasnya

Yang lebih mengusik, beberapa lokasi dugem berada dekat pondok pesantren. Bagi warga, ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan ancaman serius bagi moral dan masa depan generasi muda.

“Kalau hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, Sumenep bisa jadi panggung maksiat terbuka,” tegas Ainul.

Desakan publik kini jelas: penyelidikan internal, pengawasan ketat pasca-operasi, dan pembongkaran jaringan pemilik serta distribusi miras. Ramadan, kata Ainul, tidak boleh dijadikan tameng pencitraan semu.

Hingga berita ini diturunkan, warga menunggu sikap tegas Kapolres Sumenep dan Dandim 0827/Sumenep. Publik ingin tahu apakah operasi Ramadan kali ini akan menjadi penegakan hukum nyata, atau kembali menjadi sandiwara tahunan yang menipu masyarakat.

Pantauan lapangan terakhir menunjukkan: Warung Mami tetap buka, MR Ball dan Lotus beroperasi sembunyi-sembunyi, sedangkan Harmony menutup pintu depan tetapi membuka akses samping. Fenomena ini membuktikan satu hal: maksiat di Sumenep bukan berhenti, tetapi hanya dipindahkan tempat dan waktu.

Masyarakat menuntut agar aparat tidak lagi bermain sandiwara, melainkan menegakkan hukum secara konsisten, terutama ketika tempat hiburan malam beroperasi di dekat institusi penegak hukum sendiri. Kepercayaan publik dipertaruhkan, dan Sumenep tengah menghadapi salah satu ujian moral dan birokrasi terbesarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button