Skandal Dugaan Hilangnya 106 Sak Beras Bantuan Bulog di Pamolokan Sumenep, Warga Tuntut Kejelasan, Peran Sekdes Ikut Disorot dan Jadi Buah Bibir

Sabtu, 18 April 2026 - 15:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep– Suasana Desa Pamolokan mendadak panas setelah mencuat dugaan selisih besar dalam penyaluran bantuan pangan Bulog. Dari total 635 sak beras bantuan yang tercatat masuk, berdasarkan data yang dihimpun dari lingkungan desa, sebanyak 106 sak diduga tidak tersalurkan kepada masyarakat penerima manfaat dan lenyap.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada jeritan warga kecil yang merasa hak mereka seolah menguap tanpa kejelasan.

Bantuan pangan tersebut sejatinya menjadi penopang kebutuhan masyarakat kurang mampu, di mana setiap keluarga penerima manfaat berhak atas 10 kilogram beras dan 1 liter minyak goreng setiap periode penyaluran. Dalam skema dua bulan pencairan, seharusnya warga menerima 2 sak beras serta tambahan minyak goreng sesuai ketentuan.

Namun kenyataan di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar.

“Saya tidak dapat. Biasanya dapat, sekarang tidak. Kemana beras itu? Itu hak kami,” ujar salah satu warga berinisial M dengan nada kecewa, Sabtu, 18 April 2026.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lain berinisial I, yang mengaku sempat mendatangi balai desa untuk mengambil bantuan, namun mendapati bantuan tersebut sudah tidak tersedia.

“Saya mau ambil ke balai, tapi katanya sudah diambil lagi sama truknya. Aneh sekali,” ungkapnya.

Dari informasi yang dihimpun, ketidaksesuaian mulai terlihat saat dilakukan pencocokan data antara jumlah bantuan masuk dan realisasi distribusi. Total 635 sak tercatat diterima, namun hanya sekitar 529 sak yang disebut benar-benar tersalurkan. Sisanya, 106 sak, kini menjadi tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Isu ini semakin menguat karena situasi pemerintahan desa yang tidak stabil. Penjabat (PJ) Kepala Desa sebelumnya telah resmi pensiun pada 28 Januari 2026, sementara hingga kini posisi tersebut belum terisi. Kondisi ini membuat jalur komando dan pengawasan distribusi disebut tidak berjalan optimal.

Sekretaris Desa (Sekdes) RB Moh. Anzar menjadi salah satu pihak yang disorot dalam proses administrasi penyaluran bantuan tersebut.

Di lapangan, situasi semakin memanas ketika muncul dugaan adanya ketidaksesuaian dalam proses distribusi awal. Beberapa sumber menyebut sebagian bantuan diduga tidak langsung disalurkan ke penerima yang terdata, sementara sebagian lainnya disebut tidak tercatat secara jelas dalam laporan akhir.

Salah satu Penanggung jawab juga dikabarkan mengalami kesulitan dalam melakukan sinkronisasi data penerima dengan realisasi distribusi di lapangan. Ia dikabarkan kewalahan menyusun laporan karena adanya selisih angka yang tidak bisa dijelaskan secara administratif.

“Laporan harus sesuai data, tapi di lapangan tidak sinkron. Itu yang bikin bingung,” ujar salah satu sumber.

Sementara itu, suara keras datang dari kalangan aktivis.

Amirul Mukminin, aktivis Sumenep, mengecam keras dugaan adanya penyimpangan dalam distribusi bantuan pangan tersebut. Ia mendesak agar dilakukan audit menyeluruh dan transparan terhadap seluruh proses penyaluran.

“Kalau benar ada selisih 106 sak, ini bukan angka kecil. Harus diungkap, harus diaudit, dan harus jelas kemana alurnya,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Sekretariat Desa Pamolokan belum berhasil dikonfirmasi, sementara dugaan selisih ratusan sak beras bantuan Bulog ini terus menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Di balik tumpukan data dan laporan, warga kini hanya menunggu satu hal: kejelasan. Sebab bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar beras, tetapi hak hidup yang sedang dipertanyakan keberadaannya.

Berita Terkait

Sekda Baru Sumenep Bukan Putra Daerah vs Sekda Lama Ir Edy: Perbedaan Karakter Disebut Seperti Langit dan Bumi
Sekda Sumenep Sekarang Disebut Bukan Orang Bupati, Birokrasi Mulai Gelisah
Kursi Sekda Dikuasai Figur Bermasalah dan Bukan Putra Daerah, Birokrasi Sumenep Terancam Jalan Sendiri sendiri
Birokrasi Diguncang: Kursi Sekda Diisi Orang Luar Jadi Simbol Kekalahan Sumenep atas Dirinya Sendiri
Kasus Kalibata Jadi Alarm Reformasi Polri, Mekeng Sambut Tim Khusus Bentukan Presiden Prabowo
Patroli Ramadhan di Sumenep Layaknya Operasi Sinetron: Warung Mami dan Jaringan Miras Tetap Bebas, Oknum yang Jaga Tempat Maksiat Diduga Ikut Operasi
KenDuren Wonosalam 2026 Resmi Ditiadakan, Pemkab Jombang
Bupati Bangkalan Hadiri Gerakan Pangan Murah Nasional, Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Harga

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 15:38 WIB

Skandal Dugaan Hilangnya 106 Sak Beras Bantuan Bulog di Pamolokan Sumenep, Warga Tuntut Kejelasan, Peran Sekdes Ikut Disorot dan Jadi Buah Bibir

Selasa, 3 Maret 2026 - 01:38 WIB

Sekda Baru Sumenep Bukan Putra Daerah vs Sekda Lama Ir Edy: Perbedaan Karakter Disebut Seperti Langit dan Bumi

Senin, 2 Maret 2026 - 23:28 WIB

Sekda Sumenep Sekarang Disebut Bukan Orang Bupati, Birokrasi Mulai Gelisah

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:43 WIB

Kursi Sekda Dikuasai Figur Bermasalah dan Bukan Putra Daerah, Birokrasi Sumenep Terancam Jalan Sendiri sendiri

Kamis, 26 Februari 2026 - 20:55 WIB

Birokrasi Diguncang: Kursi Sekda Diisi Orang Luar Jadi Simbol Kekalahan Sumenep atas Dirinya Sendiri

Berita Terbaru