Skandal Bantuan Beras di Pamolokan Meledak! 106 Sak Diduga Hilang, Muncul Dugaan Akan Ada Rekayasa Data demi Laporan 100 Persen

Senin, 20 April 2026 - 18:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep – Skandal dugaan raibnya ratusan sak beras bantuan pangan di Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Di tengah derasnya sorotan publik, muncul dugaan baru yang tak kalah mencengangkan: adanya rencana dugaan manipulasi data laporan dengan cara akan merekayasa dokumentasi agar distribusi bantuan terlihat tuntas di sistem.

Informasi ini diungkap oleh seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia menyebut adanya upaya sistematis untuk “mengakali” laporan agar tercatat selesai 100 persen di aplikasi, meskipun kondisi di lapangan jauh dari kenyataan.

“Jadi intinya sekarang diduga mau memanipulasi data dengan cara cari orang-orang sendiri untuk difoto, lalu dimasukkan ke laporan agar aplikasi masuk 100 persen,” ujarnya, Senin, 20 April 2026.

Menurutnya, tekanan untuk merampungkan laporan tersebut tidak datang dari satu pihak saja.

“Tadi sudah ada dari pihak kabupaten dan pengawas, mas,” tegasnya.

Ia juga mengungkap bahwa dalam praktiknya, penyelesaian laporan lebih diprioritaskan dibandingkan kebenaran distribusi di lapangan.

“Kalau dari korkab yang penting laporan di aplikasi harus 100 persen selesai. Tidak mau tahu bagaimana caranya. Tadi sudah rapat, disana ada pengawas, Sekdes, Korkab dan pannggung jawab,” tambahnya.

Ironisnya, di saat laporan didorong harus sempurna, kondisi riil di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Bantuan beras yang seharusnya dibagikan kepada masyarakat disebut sudah habis, bahkan tidak mencukupi. “Sedangkan beras yang mau dibagikan sudah habis,” ungkapnya.

Situasi ini memunculkan dugaan kuat bahwa oknum di tingkat desa kini mencari jalan pintas, termasuk dengan mencari orang untuk sekadar difoto sebagai bukti penyaluran.

“Jadi mau tidak mau, oknum di desa tersebut mencari orang yang mau difoto hanya untuk laporan di aplikasi saja supaya selesai perkaranya,” jelasnya.

Sebelumnya, gelombang kemarahan publik telah lebih dulu mencuat setelah diketahui adanya selisih 106 sak beras bantuan pangan Bulog yang diduga hilang. Dari total 635 sak yang tercatat masuk ke Desa Pamolokan, hanya sekitar 529 sak yang disebut tersalurkan.

Selisih ini memicu dugaan serius adanya penyimpangan, bahkan mengarah pada praktik yang diduga terstruktur.

Bantuan tersebut sejatinya merupakan hak masyarakat kurang mampu, di mana setiap keluarga penerima manfaat berhak atas 10 kilogram beras dan 1 liter minyak goreng setiap periode penyaluran. Namun di lapangan, sejumlah warga justru mengaku tidak menerima apa pun.

“Saya tidak dapat. Biasanya dapat, sekarang tidak. Kemana beras itu? Itu hak kami,” ujar salah satu warga berinisial M dengan nada kecewa.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang mengaku sempat mendatangi balai desa, namun bantuan sudah tidak tersedia. “Saya mau ambil ke balai, tapi katanya sudah diambil lagi sama truknya. Aneh sekali,” ungkapnya.

Situasi semakin memanas karena kondisi pemerintahan desa yang dinilai tidak stabil, menyusul berakhirnya masa jabatan Penjabat Kepala Desa sejak 28 Januari 2026 tanpa adanya pengganti definitif. Kekosongan kepemimpinan ini disebut membuka celah lemahnya pengawasan distribusi bantuan.

Sekretaris Desa (Sekdes) RB Moh. Anzar kini ikut terseret dalam pusaran sorotan, terutama terkait tanggung jawab administrasi dan distribusi bantuan di tingkat desa.

Sejumlah sumber internal mengungkap adanya ketidaksinkronan serius antara data penerimaan dan realisasi penyaluran bantuan. Bahkan, proses pelaporan disebut mengalami kendala akibat selisih data yang tidak bisa dijelaskan secara administratif.

“Laporan harus sesuai data, tapi di lapangan tidak sinkron. Itu yang bikin bingung,” ungkap salah satu sumber.

Kemarahan publik pun kian memuncak. Aktivis Sumenep, Amirul Mukminin, menilai kasus ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kesalahan administratif semata.

“Kalau benar ada 106 sak beras yang hilang, ini bukan lagi kesalahan biasa. Apalagi kalau sampai ada manipulasi data, ini sudah sangat serius. Harus dibongkar habis,” tegasnya.

Ia mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah tegas.

“Bupati harus segera mencopot Sekdes Pamolokan, lakukan audit total, dan buka semuanya secara transparan. Jangan sampai hak rakyat dirampas lalu ditutup dengan laporan fiktif,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber lain berinisial K turut menambah panas situasi dengan menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum tertentu.

“Banyak yang lihat itu keluarganya si anu… itu yang ngambil di kantor desa,” ujarnya singkat.

Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Pemerintah Desa Pamolokan belum memberikan klarifikasi resmi. Dugaan hilangnya 106 sak beras kini tidak hanya menjadi persoalan distribusi, tetapi juga berkembang menjadi isu serius terkait integritas laporan dan transparansi pengelolaan bantuan.

Publik kini menanti jawaban tegas, apakah dugaan manipulasi data ini benar terjadi, atau justru menjadi pintu masuk terbongkarnya praktik yang lebih besar?

Di tengah semua polemik ini, satu hal yang tak terbantahkan—rakyat kecil kembali menjadi korban. Hak mereka diduga hilang, sementara kebenaran masih tertutup kabut ketidakjelasan.

Penulis : Ilham

Berita Terkait

Balai Desa Pamolokan Sumenep Lumpuh Total, Skandal Beras Hilang Picu Amarah Warga
Skandal Memalukan! 106 Sak Beras 10 Kg Hak Rakyat Diduga Lenyap di Pamolokan, Bupati Sumenep Diminta Copot Sekdes Tanpa Toleransi
H. Bulla Pamekasan Disebut-sebut Aktor dalam Peredaran Rokok Bodong Marbol
Terkuak! Johan Sugiharto Disebut dalam Pusaran “Mafia Cukai”, KPK Mulai Bergerak
Dugaan Skandal Bea Cukai Melebar! Nama Bos CV Sayap Mas Disorot, KPK Didesak Bertindak Tegas
KPK RI Didesak Bongkar Dugaan Jaringan Mafia Cukai di Sidoarjo, H. Samsul Huda Diduga Masuk Pusaran
Di Tengah Warga Puasa dan Tarawih, Warung Mami Diduga Sarang Miras Tetap Buka 300 Meter dari Rumdis Kapolres, Hanya Tutup Saat Jelang Operasi Tengah Malam
Dugaan Setoran Rp 250 Juta dalam Skandal BSPS Sumenep Stagnan, Publik Pertanyakan Keseriusan Mabes Polri

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 11:33 WIB

Balai Desa Pamolokan Sumenep Lumpuh Total, Skandal Beras Hilang Picu Amarah Warga

Senin, 20 April 2026 - 18:58 WIB

Skandal Bantuan Beras di Pamolokan Meledak! 106 Sak Diduga Hilang, Muncul Dugaan Akan Ada Rekayasa Data demi Laporan 100 Persen

Minggu, 19 April 2026 - 19:08 WIB

Skandal Memalukan! 106 Sak Beras 10 Kg Hak Rakyat Diduga Lenyap di Pamolokan, Bupati Sumenep Diminta Copot Sekdes Tanpa Toleransi

Minggu, 19 April 2026 - 16:27 WIB

H. Bulla Pamekasan Disebut-sebut Aktor dalam Peredaran Rokok Bodong Marbol

Minggu, 19 April 2026 - 16:04 WIB

Dugaan Skandal Bea Cukai Melebar! Nama Bos CV Sayap Mas Disorot, KPK Didesak Bertindak Tegas

Berita Terbaru