Parah! Ditengah Dugaan Kriminalisasi Wartawan dan Badai Kasus, Polres Sumenep Gelar Buka Puasa Bersama Segelintir Jurnalis

SUMENEP — Di tengah kepercayaan publik yang terus digerus oleh rentetan isu serius, relasi antara kepolisian dan insan pers di Kabupaten Sumenep kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena kasus-kasus besar yang belum tuntas, tetapi juga karena cara komunikasi yang dinilai timpang dan eksklusif.
Gelombang kritik mencuat setelah kegiatan buka puasa bersama yang digelar Polres Sumenep disebut hanya melibatkan segelintir wartawan. Sejumlah jurnalis mengaku tidak dilibatkan, bahkan tidak mengetahui adanya acara tersebut. Fakta ini menimbulkan kesan kuat bahwa sinergi yang diklaim justru berlangsung secara terbatas dan tidak inklusif.
“Fakta di lapangan, banyak wartawan yang tidak dilibatkan dan tidak hadir di lokasi,” ujar L, salah satu wartawan Sumenep.
Pernyataan itu diperkuat oleh FN, wartawan lain yang menyebut dirinya sama sekali tidak diundang. Ia bahkan mempertanyakan urgensi dan makna kegiatan tersebut di tengah kondisi yang ia nilai tidak sehat bagi kebebasan pers.
“Saya juga tidak diundang. Tapi saya tidak berharap. Manfaatnya apa diundang Polres, kalau masih ada wartawan yang dikriminalisasi karena kasus BBM?” katanya.
Kesaksian serupa datang dari wartawan yang hadir di lokasi. Ia mengungkapkan bahwa jumlah jurnalis yang hadir sangat minim dan jauh dari gambaran yang beredar di publik.
“Yang hadir hanya beberapa saja, bro. Bisa dihitung jari. Dua puluhan lebih,” ungkapnya singkat.
Kegiatan buka puasa itu sendiri digelar di tengah derasnya sorotan terhadap sejumlah persoalan krusial di Kabupaten Sumenep.
Mulai dari kasus galian C yang diduga tanpa pengawasan hingga memakan korban jiwa, dugaan mafia BBM yang menyeret oknum aparat, maraknya sarang miras dan tempat maksiat, hingga isu pelepasan terduga pelaku judi dengan tebusan puluhan juta rupiah. Seluruh kasus tersebut hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar di ruang publik.
Namun di tengah badai isu tersebut, Polres Sumenep justru mengklaim telah melaksanakan buka puasa bersama insan media sebagai upaya memperkuat sinergi dan komunikasi.
Dalam keterangan resminya, Polres menyebut kegiatan berbuka puasa bersama digelar di Aula Ruang Video Conference (Vidcon) Mapolres Sumenep, Rabu (25/2/2026), dan dihadiri puluhan wartawan dari berbagai platform media.
Kapolres Sumenep, AKBP Anang Hardiyanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran insan pers. Ia mengaku sebagai Kapolres baru masih dalam tahap penyesuaian dan membutuhkan dukungan media dalam menjalankan tugasnya.
Ia menegaskan komitmennya untuk membuka ruang komunikasi seluas-luasnya serta meminta agar setiap informasi yang berkembang dikonfirmasi terlebih dahulu guna menghindari kesalahpahaman.
Namun, klaim tersebut dinilai kontras dengan realitas yang dirasakan sebagian besar wartawan. Bagi mereka, persoalan bukan sekadar soal undangan buka puasa, melainkan soal keadilan akses, transparansi, dan keseriusan membangun relasi yang setara—terutama ketika pers justru merasa ditekan dan diabaikan.
Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum refleksi, kejujuran, dan perbaikan, justru menyisakan ironi. Ketika sinergi digaungkan dalam rilis resmi, suara wartawan yang tidak dilibatkan justru semakin lantang di luar ruangan.
(KORWIL)



