Warung Mami Dioperasi Setelah Barang Dibawa Mobil Hitam, Aparat Sumenep Kecolongan Lagi! Hanya Dapati Air Mineral dan Coca-Cola

SUMENEP — Publik Sumenep kembali dibuat gelisah dan bertanya-tanya. Warung Mami di Talangan, yang selama bertahun-tahun dicurigai sebagai gudang miras aktif, terlihat memindahkan sebagian barang dagangannya menggunakan mobil hitam, Jumat malam (20/2/2026). Namun, ketika aparat datang melakukan operasi, yang didapat hanyalah beberapa air mineral, dan Coca-Cola.
“Ya kalau dioperasi setelah barang-barangnya diangkut, mana mungkin aparat mendapati apa-apa. Ini jelas kecolongan.” kata Aktivis Sumenep, Ainul Yakin.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah Warung Mami benar-benar ditutup, atau hanya ‘mentransfer’ seluruh persediaan secara diam-diam untuk menghindari sorotan publik dan aparat?
Saksi mata menyebut, bahwa sebelum dilakukan operasi, barang barang yanh diduga miras diangkut mobil hitam.
“Semalam minumannya sudah diangkut mobil hitam, Mas. Dugaan kuat bahwa aktivitas ini adalah boyongan seluruh persediaan miras, seakan ingin menghilangkan jejak sebelum tindakan hukum dijalankan,” jelas seorang mahsiswa yang melihat kejadian.
Warung Mami berlokasi di Jalan Lingkar Timur, jalur publik ramai, bersebelahan dengan warung durian, namun aktivitas malamnya tetap ramai selama bertahun tahhn, seolah tak tersentuh aparat.

“Tempat itu tidak bukan tempat kulineran namun disiasati banmer makanan. Coba Kapolres dan Dandim lamgsung sidak ke sekitar lokasi dan menyamar jadi warga biasa, kemudian tanha tanya apakah tempat iti selama bertahun tahun menjual makanan. Pasti jawabnya tidak,” ujar N, warga Pabian.
Dugaan keterlibatan oknum aparat dan keluarganya dalam melindungi Warung Mami semakin kuat.
Pasca viral di media sosial, beberapa lokasi dugem dan sarang miras lain di Sumenep, termasuk JBL, MR Ball, Potree, dan Lotus, terlihat tutup sementara. Namun warga tetap skeptis. Penutupan itu dinilai bukan karena kesadaran hukum, melainkan reaksi sementara terhadap sorotan publik.
“Karena sudah viral. Kalau sudah tidak viral pasti buka lagj,” tegasnya.
Aktivis Ainul Yakin menekankan, penutupan sementara bukan jaminan keamanan bagi generasi muda.
“Generasi Sumenep sedang dirusak secara sistematis. Jika aparat tidak tegas, aktivitas ini pasti akan muncul lagi,” tegasnya.
Lebih mengkhawatirkan, dugaan peredaran miras juga muncul di kawasan Pandian, tepat di depan pondok pesantren milik mantan Wakil Bupati Sumenep, Dewi Khalifah.
Hal ini menimbulkan kegelisahan publik: bagaimana aktivitas yang merusak moral bisa tumbuh di sekitar simbol pendidikan agama?
“Kami menuntut tindakan tegas dari Kapolres Sumenep dan Letkol Arm Bendi Wibisono, S.E., M.Han, Dandim 0827/Sumenep, agar dilakukan penyelidikan internal dan intelijen. Identitas pemilik Warung Mami dan jaringan peredaran miras di seluruh titik, dari Talangan, JBL, MR Ball, Potree, hingga Lotus, harus dibongkar secara terbuka.
Jika hukum terus tumpul ke atas dan tajam ke bawah, Sumenep berisiko menjadi panggung maksiat terang-terangan,” tutupnya.



