Malang – Aroma tak sedap dari dugaan praktik rokok ilegal di Jawa Timur kian menyengat. Setelah sebelumnya aparat menindak sejumlah pelaku lapangan, kini sorotan publik mulai mengarah ke level yang lebih tinggi—termasuk nama pengusaha yang disebut-sebut masuk dalam radar penelusuran.
Nama Haji Munawir, yang dikenal sebagai bos PT Gunung Cengkeh di Malang, ikut terseret dalam pusaran isu ini. Meski belum ada pernyataan resmi terkait status hukumnya, sejumlah sumber menyebut bahwa namanya mulai dikaitkan dalam proses pendalaman oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Informasi yang beredar menyebut dugaan ini berkaitan dengan rantai distribusi rokok yang diduga tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan cukai. Jika benar, praktik semacam ini bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan berpotensi merugikan negara dalam skala besar.
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya menyebut, pemetaan terhadap sejumlah pihak terus dilakukan.
“Beberapa nama sudah mulai masuk dalam proses penelusuran, termasuk Haji Munawir,” ujarnya.
Isu ini pun memantik reaksi keras dari kalangan aktivis.
Mereka menilai, jika dugaan ini benar adanya, maka persoalan rokok ilegal bukan lagi kasus kecil, melainkan sudah mengarah pada jaringan yang lebih terstruktur.
Aktivis Malang, Mahmud, secara tegas mendesak agar aparat tidak setengah hati.
“Kalau memang serius, jangan hanya berhenti di bawah. KPK harus berani memanggil dan memeriksa semua pihak yang disebut, termasuk Haji Munawir. Jangan sampai publik menilai ada yang dilindungi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi agar tidak memicu spekulasi liar di masyarakat.
Sementara itu, pihak Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan bahwa proses pendalaman masih berlangsung dan belum ada kesimpulan final.
“Masih dalam tahap kajian untuk memastikan kesesuaian antara aturan dan praktik di lapangan,” ujar juru bicara.
Situasi ini menempatkan KPK di bawah sorotan tajam publik. Pertanyaannya kini sederhana namun krusial: apakah penelusuran ini akan dibuka secara terang benderang, atau justru berhenti di tengah jalan?
Kasus ini masih berkembang. Namun satu hal yang pasti—kepercayaan publik sedang dipertaruhkan.
















